perjalanan penulisan syair syair lagu di indonesia
Catatan ini berupa rangkuman perjalanan musik popular Indonesia dari masa ke masa. Penulis mengambilnya dari berbagai sumber tulisan yang tersebut dalam daftar pustaka dibawah. Untuk tulisan sampai dengan tahun 80-an, penulis telah menulis ulang artikel dari Remy Silado dengan beberapa penambahan. Memang sebagai bagian dari sejarah musik Indonesia, artikel ini masihlah sangat terbatas jauh dari sempurna hal ini dikarenakan karena keterbatasan pengetahuan penulis semata, hingga diharapkan apabila ada yang memberikan tambahan, maka penulis menyatakan terima kasih sedalam-dalamnya. Semoga artikel ini dapat menambah khazanah sejarah budaya bangsa kita.
Syair Lagu Indonesia Sebelum 1900-an
Adanya syair dari suatu lagu tak lepas dari adanya perkembangan bahasa yang ada. Dalam perkembangan musik Indonesia, perkembangan syairnya tak lepas dari perkembangan bahasa melayu di Indonesia Timur, terutama di Ambon, tempat dimana keroncong asli pertama kali hadir di nusantara. Di Ambon, meluasnya bahasa melayu terkait dengan sifat administratif penjajahan Belanda yang didahului oleh bangsa Portugis pada abad ke 16, melalui kegiatan gereja, yaitu dengan perlawatan pastor Franciscus Xaverius di wilayah nusantara dan kemudian singgah di Ambon. Sebelum singgah di Ambon, Franxiscus Xaverius sempat pula singgah di Malaka, dan sempat meminta seorang Melayu untuk menterjemahkan nyanyian Ave Maria, Doa Bapa Kami, dan Kredo ke dalam bahasa Melayu. Dengan ketiga terjemahan itu dia pergi ke Ambon, masuk keluar kampung sambil membawa lonceng serta bernyanyi. Akhirnya banyak penduduk Ambon yang memeluk agama Nasrani. Untuk kepentingan ibadah maka bahasa Melayu-lah yang kemudian dipakai dan dihafal oleh penduduk.
Ketika keroncong asli merupakan satu-satunya pilihan hiburan pada abad 16, maka syair-syair nyanyian yang semula bersifat religius perlahan-lahan berkembang menjadi syair-syair tentang kehidupan sehari-hari. Misalnya tentang seorang istri yang serong saat suaminya pergi ke kota, yang syairnya seperti dibawah ini:
Soeda malam, sjappa de pintu
Annac Banda, tester casomba
Mari masoek, djangan takoet
Laki betta ada cotta
Syair diatas lazim disebut lagu genit (donci – donci ondos). Sampai akhir abad ke 19, pengaruh bahasa Portugis dan Melayu masih sangat kuat dalam donci-donci tersebut, hingga sekitar tahun 1890-an berkembanglah syair yang bersifat nostalgia dan kerinduan pada tanah kelahirannya. Hal ini terjadi saat banyak marsose Ambon yang dikirim oleh pemerintah Belanda untuk memadamkan peperangan di wilayah nusantara. Sebagai contoh adalah syair Ole Sio dibawah ini dimana bahasa Melayu Ambon masih mendominasinya:
Ole sio, sayang la di lale
Apa tempo beta balik lagi
Ingat Ambon tana toempa dara
Lagi iboe bapa dan soedarae
ng saya muat di blog saya. Menurut saya tulisan ini menarik dan saya perlu untuk mendokumentasikannya.
Syair Lagu Indonesia Setelah 1900
Memasuki abad ke 20 (1903), saat industry fonograf di Amerika kian maju, ternyata berpengaruh pula di Indonesia (Pada saat itu Hindia Belanda). Perusahaan fonograf Columbia Company merekam lagu-lagu yang popular, dan inilah yang juga masuk ke Indonesia yang kemudian dimainkan oleh pemusik-pemusik campuran Belanda, Melayu dan Tionghoa antara lain: lazy Moon, Mother o’ Mine, Navajo, Beautiful Spring. Hal inilah yang kemudian mempengaruhi corak syair lagu di Indonesia. Ciri-ciri khas lagu pada saat itu adalah berbentuk pantun, dengan bahasa campuran Melayu dan Belanda. Salah satu contohnya adalah lagu Ajoen-Ajoen (1903):
Ajoen-ajoen, in de hooge klaper boom
O mas Miro klimb in de hooge klaper boom
Djangan la mandi si kali Semarang
Kali Semarang banja’ lintahnja
Djangan la kawin nona sekarang
Nona sekarang la banjak tingkanja
Dua baris terdahulu dalam syair itu berfungsi sebagai chorus, kemudian disusul pantun jenaka dibawahnya. Syair dibuat tanpa ada tujuan dakwah, nasihat dan sebagainya. Tujuan semata hanya sebagai musik hiburan saja. Hal ini karena lagu popular pada dasarnya bersifat menghibur saja.
Berhubung musik pop atau popular ini tujuannya hanya menghibur saja, maka hampir tak dipikirkan untuk memasukkan syarat-syarat artistic maupun estetik didalamnya. Media pertama dalam menjalin hubungan dengan pendengarnya adalah syair, barulah kemudian dibangun sisi instrument, aransemen, harmoni dan seterusnya. Sedang bahasa yang digunakan masihlah sama yaitu bahasa Indo campuran Melayu dan Belanda. Sebagai contoh :
OLE! OLE! BANDOENG
Ole! Ole! Bandoeng
Moonie meisjes je vind hun aleen daar
Manise!
Ole! Ole! Bandoeng
Maar jou hartje moet niet djadi bingoeng
Het is zo fijn in kota Bandoeng
Het daar fresjes de wind
Komt van de goenoeng
Veel jounglui en nona wonen daar
Kata Bandoeng is goed voor pas getrouwd paar
Kata ole-ole diatas bukanlah berarti oleh-oleh, tetapi merupakan kata seru dalam bahasa Portugis yang dipakai di Ambon (lihat lagu Ole Sio).
Sekitar tahun 1913, bersamaan dengan pesatnya pengaruh industry fonograf, maka bahasa Inggris mulai masuk dalam pertumbuhan seni di Indonesia. Sekitar tahun 1920-an, di Indonesia sudah ada 3 perusahaan rekaman ponograf (satu di Surabaya dan dua di Jakarta), sehingga memperluas peredaran nyanyian. Tetapi pemusik-pemusik panggung (bar atau pub) masihlah berjaya. Antara lain di Prinsen Park, Pasar Gambir, Globe Garden dan lain-lain. Lagu-lagu yang ada mulai bercampur antara bahasa Indo dan bahasa Inggris:
VAARWEL NONA MANIS
Vaarwel minj schat, mijn nona manis
Don’t forget, djangan la loepa kepada saja
Deep in jou hart, you always think of me
Ik blijf steeds dromen ven minj sweetheart
But I’ll come back my nona manis
Wacht of mij, nona la toenggoe kep[ada saja
But you return you always think of me
Saja la poelang ingat saja
Kedudukan bahasa Inggris semula tidaklah sebebas bahasa Belanda. Jika diperhatikan syair diatas, maka hampir setiap penggunaan bahasa Inggris selalu disertai dengan terjemahannya dalam bahasa Melayu. Tetapi lama-lama penggunaan bahasa Inggris dalam syair lagu semakin berani, misalnya dalam lagu Waarom Huil Je Toch Nona Manis:
Waarom huil je toch nona manis
Saja ingat terlaloe padamoe
Droog je tranjes maar nona manis
Shall I come back again with you
Dari djaoe dating sinjo manis
Soeara kekasihkoe nyang merdoe
Waarom huil je weer nona manis
Sekarang I come back again to you
Syair Lagu Indonesia Era Kebangkitan Nasional
Seiring dengan semangat Pergerakan Nasional dan semangat Sumpah Pemuda sebagai puncaknya, ternyata membangkitkan pula semangat untuk mengangkat bahasa Melayu tinggi. Bahasa Melayu menjadi sangat berarti, lebih-lebih setelah pemerintah Belanda mendirikan Commissie voor de Volkslectuur yang kelak bernama Balai Poetaka pada tahun 1908.
Banyak buku yang diterbitkan, yang secara otomatis pula berarti bagi perkembangan sastra Indonesia. Ternyata hal ini jugalah yang mempengaruhi pengilhaman tema dan penulisan syair lagu-lagu pop. Misalnya roman Azab dan Sengsara karya Marah Roesli, yang temanya sangat memelas, ternyata pula mempengaruhi perkembangan syair lagu pop pada saat itu. Kemudian adaanya pengaruh syair-syair Tiongkok yang banyak berorientasi pada tema keindahan alam, juga turut pula memberikan warna pada syair lagu pop, hal ini tak dapat disangkal lagi karena pada saat itu telah terjadi pencampuran budaya Tiongkok dengan Pribumi terutama di daerah pesisisr. Misalnya saja syair lagu Boelan Poernama;
Malam hari waktoe boelan poernama
Menerang alam majapada
Doehai boelan indah nian wadjahmoe
Mengingatkan kisahkoe dahoeloe
Waktoe akoe memadoe djandji
Soempah setia sehidoep semati
Atau dapat kita lihat syair dari lagu Sengsara yang terilhami roman Azab dan Sengsara. Lagu ini diciptakan pada tahun 1933 oleh Alief Menteja, 5 tahun setelah Sumpah Pemuda;
Telah lama akoe menjusuri boeana
Akoe mengembara di belantara
Memasuki penjuru mengedjar pawana
Mentjari kekasih pergi entah kemana
O Tuhan, bimbinglah akoe
Sampai kapan akoe berlaloe
Dilipoeti pedih diri sengsara
Atau mungkin lagu Kasih Tak Sampai (A Dullah) yang diciptakan tahun 1929. Lagu ini terilhami dari roman Kasih Tak Sampai dari Marah Roesli, hanya saja terselip interprestasi dari A Dullah tetntang pandangan kerohanian disini;
Hilanglah harapankoe kini
Sedih nian hatikoe mentjari
Akoe mendaki goenoeng tinggi
Masoek dalam goea jang sepi
Akoe tak melihat djedjak kaki
Akoe menangis makin sedih
Kasih tak sampai oh kekasih
Kasih tak sampai oh kekasih
Di mana kini kasihkoe
Di mana pergi kasihkoe
Oh Tuhan laranja hatikoe
Semua tempat engkaoe koe tjari
Dari kedua contoh syair lagu diatas, tampaklah bahwa ketidak-berdayaan telah menyebabkan orang berseru kepada Tuhan. Tema diatas ini pulalah yang masih bertahan hingga sekarang dalam penulisan syair lagu pop, ketidak-berdayaan dan penyerahan diri pada Tuhan.
Seolah dari kedua syair diatas betapa cengengnya seseorang, yang hanya karena masalah cinta, telah meratap kepada Tuhan. Betapa terjadi penurunan nilai Ketuhanan, sehingga untuk masalah yang tergolong ”ringan” tersebut harus merengek-rengek ke Tuhan. Dalam industri musik sekarang inipun hal ini terjadi. Seolah-olah seruan “Oh Tuhan” menjadi bagian komoditas industri musik Indonesia. Malah seruan itu akan menjadi pemanis yang bisa mencetak angka penjualan yang sangat tinggi untuk rekaman. Nama Tuhan dikomersilkan. Tetapi kita harus menginsyafi satu hal, pada saat kedua lagu tersebut diatas dibuat, insdustri musik masihlah belum seperti sekarang ini.
Sebagai contoh dalam masa yang berbeda (1974) Titiek Puspa dalam lagu yang diciptakan yaitu Cinta, seolah nama Tuhan hanyalah sebagai pemanis saja;
Oh Tuhan tunjukkanlah
Dosa dan salahku
Mudahnya dia buat janji
Semudah dia ingkari janji
Alangkah kejamnya cinta
Alangkah pedihnya
Kejam oh kejam
Pedih oh pedih
Cinta oh cinta
Dan masih banyak yang seperti ini, sehingga kalau ditelaah secara mendalam, terjadi adanya keterbatasan kreativitas , serta imajinasi yang telah terkungkung oleh adanya industri musik, sehingga sang penulis lagu pop tidak mandiri. Sulit bagi para penulis lagu pop untuk berkompetisi mengembangkan tema, atau paling sedikit bergaul dengan sastra.
Syair Lagu Indonesia Era Penjajahan Jepang
Padahal jika kembali pada tahun 1943, saat masa pendudukan Jepang, lahirlah lagu-lagu pop yang syairnya sarat dengan kritik kepada pemerintahan pendudukan Jepang didalamnya, dan memperlihatkan suasana kontemplasi. Kritik-kritik yang dilontarkan dimunculkan secara tersirat dalam bentuk perlambangan, misalnya:
NASIB TOELUNGAGOENG
Oh nasib Toeloengagung
Tertimpa bahaja bandjir
Aloen-aloen mendjadi kedoeng
Oh air tenagamoe
Terlihat tak seberapa
Tetapi kala kamoe bernapsoe
Menimboelkan bentjana
Tida’ hanja keboen dan lading
Jang menderita keroesakannja
Poen banja’ manoesia
Jang mendjadi korban
Rakjat tak akan loepa
Lima belas boelan sebelas
Doea riboe enam ratoes doea
Waktoe bandjir terdjadinja
Kelihatan pencipta lagu ini memanfaatkan bencana alam sebagai idiom peperangan. Dalam gambaran fisik atau tersurat, syair ini bercerita tentang pengertian falsafah masyarakat purba Indonesia, dimana makrokosmos tak akan disaingi dengan kemampuan manusia. Sebagai gambaran lain adalah dalam syair lagu Kali Seraju ciptaan Abu Jasid:
Pernah koejtoba
Menoeroetkan gerak aloenan
Seniman seniwati
Tetapi tergelintjir di djalan
Sebatang padi
Jang koelihat tegak berdiri
Tetapi tiada daja
Kaoe rebah bila tertioep angin
Tetapi koelihat dikaoe
Sebagai tak mengindahkan
Segala hambatan rintangan
Teroes tetap mengalir menoedjoe moeara
Oh Kali Seraju
Kaoe sungai berterima kasih
Tpi akan koetjoba
Maka koesoesoen poela langkahmoe
Ada otokritik yang terkesan dalam syair itu, dimana sang pencipta merasa tak berdaya melihat bangsanya diinjak-injak oleh penjajah.. walaupun begitu sang seniman menyerukan, apabila ada persatuan, yaitu bersatunya air sungai dan air laut di muara, maka akan terwujud kekauatan untuk mencapai kemerdekaan.
Syair Lagu Indonesia Pasca Proklamasi Kemerdekaan 1945 Dan Masa Orde Lama
Hal yang senada terjadi pada tahun 1953 ketika usia kemerdekaan masih sangat muda, disana-sini masih banyak kekacauan, termasuk kekacauan politik. Kabinet dalam 4 tahun telah berganti 14 kali. Maka disamping berkembang syair lagu tentang alam, maka juga berkembang lagu popular berisi kritik, sebagai contoh lagu T.S.T, dimana kritik dilakukan secara langsung dan terbuka:
Akoe baroe mengerti
Nama TST
Tahoe Sama Tahoe
Dan sampai dengan 10 tahun kemudian yaitu tahun 1963, munculah lagu yang berjudu I.I.I karya R Soetedjo dan Mahargono, yang berisi kritik pedas pada pemerintahan;
Kalaoe Boeng pemimpin sedjati
Haroes Boeng hati-hati
Djangan Boeng jtari koersi
Oentoek diri sendiri
Njahkanlah hatimoe jang dengki
Basmilah hawa napsoe koroepsi
Mari Boeng marilah kembali
Pada djalan jang soetji
Tetapi yang sangat menarik di dekade 50-an, seiring dengan perkembangan pola fikir demokrasi dan liberal disamping pemikiran sosialis nasionalisme , maka perhatian sebagian seniman Indonesia terhadap Amerika terasa berlebih-lebihan. Sebagai contoh dalam industri film terjadi, yang pada masa itu film-film Amerika banyak yang berlatar belakan cerita cowboy. Industrialis Indonesia tak mau ketinggalan, hanya saja mereka mengadopsi mentah-mentah kesenian yang ada itu, sehingga munculah para cowboy kulit sawo matang di layar perak Indonesia. Tak hanya itu, dalam hal musikpun “demam cowboy” juga melanda penulisan syair lagu, contohnya adalah lagu Si Penjaga Sapi yang dinyanyikan oleh Leila Sari tetapi dipopulerkan dalam rekaman oleh Mien Sondakh, dan diulang kepopulerannya nantinya oleh Norma Sanger dengan judul Si Gembala Sapi. Bukan hanya tema lagunya, bahkan aksen penyanyinyapun di Amerika-kan juga, kata sapi, jika dinyanyikan menjadi sapey.
SI PENDJAGA SAPI
Saja ini si pendjaga sapi
Jodel le yo yo yo li dei
Inilah kerdjanja si pendjaga sapi
Apa jang kaoe pikirkan lagi
Djika hari soedah petang
Sapi poelang ke kandang
Si pendjaga toerot dari belakang
Djika soedah toetoep pintoe kandang
Si pendjaga menjenangkan badan
Inilah kerdjanja si pendjaga sapi
Apa jang kaoe pikirkan lagi
Jodel-jodel jodel
Meskipun invasi budaya telah terjadi, tetap saja ada usaha dari kalangan pencipta lagu untuk tetap menegakkan bahasa Indoensia. Misalnya Cornel Simandjoentak yang mengangkat puisi penyair tertentu, misalnya Chairil Anwar menjadi sebuah lagu, Selain itu ada Ismail Marzuki yang lagu-lagunya kental dengan semangat romantisme di kancah perjuangan, misalnya lagu Sepasang Mata Bola. Juga ada Iskandar yang memberikan idiom-idiom menarik di paruh tahun 50-an, sesaat sehabis penyerahan kedaulatan. Gambaran tentan persona alam masih mewarnai syair lagunya:
BANDAR DJAKARTA
Alam lembajoeng menghiasi Bandar
Indah permai
Aman terlindoeng oleh Pulaoe Seriboe
Melambai
Melambai rona merona
HALO-HALO BANDOENG
Written by: Ismail Marzuki ( 1946 )
Halo-halo Bandoeng Iboe kota Parahijangan
Halo-halo Bandoeng kota kenang-kenangan
Soedah lama beta tidak berdjoempa dengan kaoe
sekarang telah menjadi lautan api
mari boeng reboet kembali!
Lagu ini untuk mengenang peristiwa 24 maret 1946, waktu itu Jepang menyerah kepada tentara Sekutu.Sekutu dan NICA mulai menguasai kota secara de facto. Saat Tentara Republik Indonesia dipaksa menyerah dan meninggalkan kota sejauh radius 11km; Majelis Persatuan Perjuangan Priangan memutuskan untuk membakar kota untuk mencegah Sekutu dan Belanda mempergunakan fasilitas dan instalasi penting yang ada di kota itu
SEPASANG MATA BOLA
Written by : Ismail Marzuki (1946)
Hampir malam di djogya
ketika keretakoe tiba
remang remang cuaca
terkedoet akoe tiba-tiba
doea mata memandang
seakan akan dia berkata
lindoengi akoe pahlawan
dari pada si angkara moerka
sepasang mata bola
dari balik djendela
datang dari djakarta
noejoe medan perwira
kagoemkoe melihatjya
sinar nan perwira rela
hati telah terpikat
semoga kita kelak berdjumpa pula
sepasang mata bola
gemoelai moerni mesra
telah mamandang beta
di setasiun djogya
sepasang mata bola
seolah-olah berkata
pergilah pahlawankoe
djangan bimbang ragoe bersama do’akoe
Tentang keindahan alam ini terulang juga pada ciptaan Maroeti, Indahnja Alam, yang dinyanyikan oleh Deetje Moningka (Djuwita). Selain itu juga ada lagu Burung Nuri yang dinyanyikan oleh Darmiati, dan Aiga yang dinyanyikan oleh Hasnah Tahar.
INDAHNJA ALAM
Angin berbunji di pohon kelapa
Membawa berita kabar jang djaoeh
Sambil menjanji berbisik apa
Betapa indah djika koe tahoe
Alangkah indahnja alam
Alangkah indahnja alam
Dapat dilihat kesulitan para pencipta lagu, betapa gambaran keindahan mesti diungkapkan dengan kata-kata indah sendiri. Jadi betapa ia mudah menyerah pada keindahan, sehingga tanpa menggunakan kata “indah” hal yang indah tidak sanggup diangkat.
Selain itu juga harus diperhatikan lagu Koedakoe lari yang sangat popular di masyarakat. Pada saat itu hampir setiap anak kecil dapat menyanyikannya. Lagu ini dinyanyikan oleh Chaidar Dja’far dan diciptakan oleh Bambang Soedarto, dimana pada kuplet terakhir ada makna ganda bukan sekedar kuda dalam arti harfiah, tetapi kata-kata madjoelah ajo madjoe/ kewankoe telah menanti/ patjulah terus patju/ deraplah djangan henti, ajo lari, hal ini berkaitan dengan latar belakang sang pencipta yang seorang republican sejati, memberikan semangat pada negara yang masih muda umurnya.
Larilah hai koedakoe
Larilah ajo lari
Madjoelah ajo madjoe
Wahai koedakoe lari ajo lari
Djika kaoe lari kentjang
Rasa hatikoe senang
Kawan-kawan riang, ah
Koedakoe lari gagah berani
Ajo lari hai koedakoe lari
Koedakoe lari gagah berani
Ajo lari hai koedakoe lari
Madjoelah ajo madjoe
Kawankoe telah menanti
Patjulah teroes patju
Deraplah djangan henti
Ajo lari
Pada tahun 50-an dimana nilai-nilai budaya nasional sedang dibangkitkan ternyata menyebabkan hasil yang ganda dan majemuk. Lagu dalam bahasa Indonesia yang tertib sama banyaknya dengan lagu dengan bahasa yang kacau balau. Ciri-ciri tema lagu mulai bervariasi, selain tema alam, tema sendu (Timang-timang Anakkoe Sajang dinyanyikan oleh S Effendi) dan tema sehari-hari (Pepaja Tjha Tjha Tjha diciptakan dan dinyanyikan oleh Adikarso), semua juga disenangi oleh masyarakat. Masyarakat suka dengan yang sederhana.
Kususnya untuk lagu Pepaja Tjha Tjha Tjha dimana belum ada resesi ekonomi, terasa sekali betapa murahnya harga buah di Indonesia, Disamping itu terasa betapa kebangganan terjadi pada produk asli Indonesia.
Pepaja mangga pisang djamboe
Dibawa dari Pasar Minggoe
Di sana banjak pendjoelanja
Di kota banjak pembelinja
Pepaja boeah jang bergoena
Bentoeknja sangat sederhana
Rasanja manis tiada tawar
Membikin badan sehat segar
Pepaja djeroek djamboe ramboetan
Doeren doekoe dan lain-lainnja
Marilah mari kawan-kawan semoeanja
Membeli boeah-boehan
Pepaja oentoek makanan rakjat
Karena sangat bermanfaaat
Harganja djuga tak mengikat
Setalen toean boleh angkat
Sebelum memasuki tahun 60-an harus dilihat betapa musik pop Indonesia dimaikan di lantai-lantai dansa oleh orang-orang yang menyebut dirinya “intelektual” alias “modern”. Hal ini sepenuhnya berkaitan dengan keadaan musik entertainment di Amerika. Irama yang paling hot pada saat itu adalah off beat yang berubah menjadi bebop, boogie dan jive. Hal ini bertahan sampai tahun 1955 saat Bill Haley and The Comet, membintangi dan menyanyikan Rock Around The Clock, film yang popular saat itu dan membawa perubahan warna sebelumnya menjadi warna musik rock.
Antara tahun 55 sampai tahun 60 rekaman lagu-lagu populer Indonesia sangatlah majemuk, ada yang terikat dengan Hawaiian, keroncong, melayu, bahkan juga irama musik Amerika Latin. Pada tahun 1959, dalam pidatonya Manipol Usdek, Bung Karno mengecam keras musik rock dan cha cha cha, sehingga ditindak lanjuti oleh para pejabat saat itu mewujudkan apa yang disebut kebudayaan nasional. Kecendrungan awal adalah merekam lagu-lagu lama yang tadinya keroncong menjadi rock. Dimulai dengan Bengawan Solo yang dibawakan oleh Oslan Hoessien, kemudian juga lagu-lagu daerah misalnya Ajam Den lapeh yang dinyanyikan oleh Nurseha, Angin Mamiri oleh Lenny Beslar, Dodndong Opo salak oleh Kris Biantoro dan masih banyak lagi.
Syair Lagu Indonesia Era Awal Orde Baru
Setahun setelah Asian Games (1963), barulah lagu-lagu pop Indonesia benar-benar menjadi sesuatu yang istimewa. Sebab melalui sistem “singing idol” atas nama Lilis Surjani, terciptalah perdagangan musik seperti sekarang ini. Secara umum musik dagangan adalah seperti fashion, terus berubah, dan tak jelas juga nilai estetikanya. Perkataan pop baru tumbuh pada tahun 60’an dan mula-mula berasal dari gerqkan seni rupa yang berlangsung di Inggris oleh RB Kitaj dan bergaung di Amerika oleh Roy Lichtenstein dan Tom Wesselman (Remy Sylado, Menuju Apresiasi Musik, Penerbit Angkasa, Bandung, 1983). Terminologi seni rupa ini kemudian diterima oleh musik, yang awalnya adalah merupakan ejekan atas persyaratan estetik dan artistic yang dianggap rendah. Sampai tahun 1965, rakyat masih belum boleh mendengarkan lagu-lagu berbahasa Inggris, karena dianggap produk kebudayaan imperialisme termasuk juga film-film barat.
Barulah pada masa pemerintahan Orde Baru muncul lagi film-film barat yang lama dinantikan kehadirannya. Pada perkembangan ini syair lagu dibangun dengan bahasa Indonesia yang tidak baku. Misalnya lagu Nonto Bioskop yang dinyanyikan oleh Bing Slamet yang kaya dengan kritik sosial:
Malem minggu aye pergi ke bioskop
Bergandengan ama pacar nonton cowboy
Beli karcis tau-tau kehabisan
Jaga gengsi terpaksa beli catutan
Adeuh emak asyiknya nonton dua-duaan
Kaya’ nyonya dan tuan di gedongan
Mau beli minuman kantong kosong glondangan
Malu ame tunangan kebingungan
Pilem abis aye terpaksa nganterin
Masuk kampong jalan kaki kegelepan
Spatu baru baru aje dibeliin
Dasar sial, pulang-pulang nginjek gituan
Apaan tuh? Ade deh
Kesan yang sama tentang kritik sosial juga ada di lagu ciptaan Titik Puspa yang berjudul Rambut Gondrong. Hal ini menunjukkan munculnya nilai-nilai baru setelah tumbangnya Orde lama, yang kemudian kritik sosial ini nantinya menjadi sikap dalam lagu-lagu Iwan Fals, Moggie Darusman (Rayap-Rayap), Gombloh dan sebagainya.
RAMBUT GONDRONG
Ini cerita jaman dulu jaman majapahit
Semua kaum lelaki berambut panjang
Raja dan kestrianya malah dikonde
Kalau kawan tidak percaya pak guru
Semua aman tidak dilarang
Tiada polisi main cegatan
Sekarang jaman moden terulang kembali
Eh sinyo yang muda-muda berambut gondrong
Tetapi entah kenapa kini dilarang
Lalu jadi macet karena cegatan
Tuh bung polisi dan pak tentara
Buka barber gratis di tengah jalan
Gambaran sosial dari segi yang lain dapat dilihat dari ciptaan Jessy Wenas, I Benci Deh Sama You, yang dinyanyikan oleh Bob Tutupoly. Lagu ini dibuat pada tahun 1970-an, memotret pergeseran nilai dari kehidupan pada awal masa Orba, dimana pada saat itu kaum waria merajalela:
Mulanya maksud hati I
Ingin nonton wayang
Tepat di tengah jalan tersenggol none mude
Si none hampir marah tetapi tidak jadi
Malah dia bicara kepadaku “ Hallo John”
Kupikir ini dia kesempatan bagiku
Kuajak dia jalan dengan bergandengan tangan
Ngomong ini dan itu tapi hati curiga
Dan akhirnya kutahu dia pria
Ah, sialan bener
Rupanya dia itu kaum wanita adam
Untung di saat itu tiada yang melihatku
Kini aku yang marah tapi memang salahku
Ku pergi jauh sambil bicara padanya
I benci deh ame you
Masih pada permulaan Orba, sebelum tahun 1970, gambaran bebas dari keterbatasan dan keterikatan adalah merupakan bagian dari pergaulan sosial. Timbulah gejala penyelewengan seks menjadi bagian yang menarik perhatian para pengarang novel, seperti Motinggo Busje, Abdullah Harahap, yang gaungnya mempengaruhi penulisan lagu-lagu populer, salah satunya adalah yang dinyanyikan oleh Pomo:
OOM SENANG
Ha ha ha ha ha ha ha
Mau ke bulan ya ha ha ha ha
Apa apa apa apa
Oom senang ya ha ha ha ha
Apa maunya ha ha ha ha ha
Oom senang ha ha ha ha ha
————————————-
Salah lagi ha ha ha ha ha
Bukan ditelan layu ha ha ha
Ditelan masuk ha ha ha ha
Oom senang senang ha ha ha
Oom tidak mabuk
Oom lagi senang-senang
Syair diatas adalah bagian kecil dari gambaran keadaan nyata atau sebagian dari penggalan sejarah. Selain itu juga tumbuh beberapa istilah baru tentang kondisi yang ada yang merupakan luka sosial memasuki babak awal Orba, sebagai contoh lagu Objek (Fenty Effendi) untuk istilah pekerjaan tak resmi dengan untung yang besar:
Ini jaman memang nggak keruan
Lak perempuan rebutan dagangan
Cari barang murahan di pegadaian
Salah bayar kebeli barang curian
Objek apa ya, bapak objek naon, duh emak
Objek gunung duh emak cari untung
Ulah kitu ya bapak, jangan gitu dong emak
Objek gunung ya kang mas, bikin bingung
Dari barang butut hingga televise
Perabot dapur termasuk meja kursi
Sang perantara mondar-mandir cari taksi
Sial banget objek bohong, hilang komisi
Masih banyak lagu-lagu yang mengemukaan tentang realita sosial, dan menegedepankan rasa kebangsaan, mislanya lagu-lagu yang dinyanyikan Gombloh dan Lemon Trees-nya,
SENANDUNG PENGEMIS TUA SEHARGA 5 RUPIAH
Terbungkuk-bungkuk bagaikan onta
Tertatih-tatih bagai kura-kura
Pengemis tua menyusuri lorong
Mencari sesuap nasi
Berjalan didekatnya si anjing kudis
Hanya itu sahabatnya yang setia
Terseok-seok jalan duanya
Mencari belas dari sesama
Tapi jarang orang memberi
Walau 5 rupiah
Tak jarang caci diterima olehnya
Sebagai ganti 5 rupiah
dst
Ataupun oleh grup musik asal Surabaya yaitu The Gembell’s dengan lagu hitnya Pahlawan Yang Terlupakan, Kalimas, Kabut Di Pagi Hari. The Gembell’s dalam penulisan lagunya tidak banyak bicara tentang cinta asmara, tetapi lebih pada kisah getir dari pahlawan yang telah dilupakan (Pahlawan Yang Terlupakan), ataupun tentang keindahan alam:
KABUT DI PAGI HARI
Di pagi hari
Sangat dingin sekali
Menjelang datangnya sang surya
Burung-burung menyambut pagi hari
Dst
Selain tentang masalah realita sosial, ternyata syair-syair lagu popular Indonesia tahun 1970, rata-rata berkisar pada tema bayang-bayang cinta dan patah hati yangmenyebabkan seseorang termenung dan melamun memikirkan masa silamnya. Didalamnya cinta selalu dianggap suci. Seperti contohnya lagu Trio Vulca (1968).
CINTA KASIHKU
Dua hati terpadu dengan syahdu
Cinta nan suci
Tak akan mungkin dihancurkan badai
Cinta abadi
Cintaku cintamu mesra selalu
Searah sejalan…
Atau lagu yang dinyanyikan oleh Bob Tutupoly, yang berjudul Tanda Tanya:
Tanda Tanya kini datang menyiksa kalbuku
Semenjak kutanyakan bilakah kau mau
Biasanya kaupun sambut dengan penuh mesra
Tetapi kini terasa hampa belaka
Entah apa gerangan yang kau risaukan
Mungkin rahasia ini demi kasih yang suci
Selain tentang cinta suci yang telah berlalu, lamunan itu juga berbentuk suasana terasing yang menyiksa. Kata-kata yang paling laku adalah sekitar kesunyian. Misalnya lagu yang dibawakan oleh Ida Royani berikut ini:
TANDA TANYA
Masa yang silam
Tak mudah lupa
Penuh kenangan kualami
Di waktu malam sunyi sepi
Ku duduk sendiri
Terkenang dikau seorang kekasih
Hatimu suci murni
Rata-rata kita tak memperoleh penyelesaian atas keterasingan. Syair melulu hanya berisi lamunan cinta, tanpa adanya upaya perlawanan terhadap nasib. Nampaknya dengan sikap seperti itu seolah bangsa kita adalah bangsa yang nrimo terhadap kesengsaraan dan penderitaan. Mungkinkah keterbatasan visi ini disebabkan karena kurang intimnya pencipta lagu pop dengan karya sastra? Kecuali yang harus kita lihat adalah Ebiet G Ade, Leo Kristi, Fanky & Jane, Katon Bagaskara yang tak dapat dielakkan memasukkan sentuhan puitis dalam lagunya.
Syair Lagu Indonesia Era Tahun 70-an
Beranjak masuk ke tahun 70-an mulai ada perubahan selera. Grup band yang berambut gondrong meniru gaya Led Zeppelin, Beatles, Deep Purple, Rolling Stone, mewabah di Indonesia. Apalagi ditambah dengan kumis dan jenggot, maka akan memberikan kesan acak-acakan, sukar diatur, jantan perkasa, dan pemberontak terhadap nilai-nilai yang ada. Tetapi ternyata hanya satu dua yang memang menghayatinya. Selain itu hanyalah model penampilan saja. Tetapi kesan cengeng masih lekat dengan grup-grup ini. Misalnya saja The Mercy’s yang digawangi oleh Rinto Harahap, Charles Hutagalung dan juga Reynold Panggabean (sebelum berdangdut ria). Ataupun Panjaitan Bersaudara (Panbers). Hanya saja yang patut menjadi catatan adalah Koes Plus, yang meski pada awalnya mengusung gaya Everly Brothers kemudian tahun 70-an membawa gaya Bee Gees, meskipun syair-syairnya banyak yang klise dan tawar, tetapi sebagian merupakan bentuk kreatifitas baru, misalnya lagu:
LIHAT JENDELAKU
Lihat! Lihatlah jendelaku
Warna hijau dari kayu
Masuk! Masuklah rumahku
Rumah besar kosong selalu
Telah lama aku terkurung! Selalu
Tembok dan pagar mengurung diriku
Aku selalu menunggu saat kebebasanku
Tolong! Tolonglah buka pintuku
Pintu rumahku terkunci selalu
Panggil! Panggilah kawanmu
Ikut makan bersamaku
Pada dekade tahun 70-an juga muncul usaha mengajukan sayir yang bisa mewakili banyak kehidupan, terutama syair yang bisa dijadikan media kebudayaan tandingan ataupun azas. Sebagai contoh seperti yang dibawakan oleh Harry Rusli:
MALARIA
Seperei tempat tidurmu putih
Itu tandanya kau bersedih
Mengapa tidak kau tiduri
Kau hanya terus menangis
Apakah kau seekor monyet
Yang hanya dapat bergaya
Kosong sudah hidup ini
Bila kau hanya bicara
Guling bantalmu kan bertanya
Apa yang kau pikirkan nona
Kau hanya bawa air mata
Dan ketawa yang kau paksa
Lanjutkan sisa hidup ini
Sebagai nyamuk malaria
Pertentangan nilai dan mutu mulai ramai dibicarakan pada dekade ini, dan sebuah majalah hiburan yang terbit di Bandung adalah yang termasuk menentukan hal ini. Grup-grup panggung menghantam grup-grup rekaman karena syairnya yang lembek. Hal ini mendorong Wiem Umboh (Tokoh film Indonesia) dan Idries Sardi (tokoh musik Indonesia) untuk mengadakan pertunjukan semalam suntuk di Pasar Minggu. Hal itu dimaksudkan untuk mendamaikan antara kedua kubu tersebut serta mendorong kreativitas. Hasil dari pertunjukan yang disebut Summer 28 (Suasana Meriah 28 Tahun Merdeka) tahun 1973 hanya mencapai satu hal, yaitu pengalaman yang menunjukkan betapa penonton seni dan musik Indonesia masih perlu dibina apresiasinya, dan pemusik Indonesia masih harus dibina kesadarannya bahwa penonton adalah raja.
Adapun rekaman-rekaman pada masa itu semakin tidak tetap karena perubahan selera terlalu cepat yang ditentukan oleh para tauke-tauke rekaman. Banyaknya perusahaan rekaman menyebabkan terjadinya persaingan yang keras di pasaran. Oleh karena itu maka sulit untuk memperoleh pemusik yang siap dengan lagu-lagu terpilih yang syairnya tidak melulu klise. Selera musik yang ada berjalan antara epigon dan latah. Memasuki tahun 1975, orang berlomba untuk mengerjakan rekaman lagu-lagu kasidah. Msialnya saja Bimbo dengan syair-syair berkolaborasi dengan Taufik Ismail. Misalnya lagu Sajadah Panjang dan sebagainya. Dalam mengerjakan syair-syair itu yang diutamakan adalah isinya yang berupa puji-pujian pada Allah dan Nabi SAW, tetapi tidak untuk menyanyikan ayat-ayat Al Quran.
Era Lagu Anak-Anak Petama
Dalam dekade ini, ada hal penting yang harus disebut, adalah munculnya penyanyi-penyanyi cilik menyanyikan lagu-lagu popular. Orang tua artis yang memeiliki anak berebutan untuk membuat album rekaman untuk anaknya. Hal ini dipicu oleh rekaman Chicha Koeswoyo yang amat memukau. Karena dunia dunianya anak-anak, maka lagu yang dinyanyikan adalah sekitar dunia anak-anak.
HELLY
Aku punya anjing kecil
Ku beri nama Helly
Dia senang bermain-main
Sambil berlari-lari
Helly (guk guk guk)
Kemari! Ayo lari-lari!
Helly (guk guk guk)
Ayo lari-lari.
Setelah Chicha disusul oleh Adi Bing Slamet, Helen, Puput Novel, Ira Maya Sopha dan lain-lain. Syair-syair disusun sederhana tetapi sangat mudah dicerna oleh anak-anak, tetapi ada juga syair lagu tentang kisah dari cerita-cerita anak-anak yang popular saat itu. Misalnya lagu Pinokio:
Pinokio, Pinokio
Boneka kayu yang lucu
Pinokio, Pinokio
Semua sayang padamu
dst
Satu hal yang patut dicatat disini bahwa sebagian dari lagu anak-anak ini juga mengemas pendidikan etika bagi anak-anak. Pendidikan yang dikemas dalam syair-syair lagu ini sangat mudah dicerna karena sederhana sehingga mudah dihafal oleh anak-anak pada saat itu.
Era Musik Dangdut
Selesai masa lagu popular anak-anak, dengan cepat selera musik berubah pada musik dangdut. Istilah dangdut ini sendiri pertama kali dipakai oleh Billy Silabumi di majalah Aktuil, untuk ejekan jenis musik ini. Lama-kelamaan ternyata musik ini menjadi salah satu ciri musik popular Indonesia yang bertahan hingga masa kini. Mungkin hal ini disebabkan karena dasar instrument dominan dalam dangdut berupa perkusi (tifa, gendang, rebana dan sebagainya), dan bagian itulah yang mewataki secara istimewa musik dangdut. Dalam musik dangdut pada saat itu friksi bercorak arab, ditopang sifat-sifat Islamiyah. Yang berhasil memberikan warna dalam musik ini adalah Rhoma Irama. Dengan itu nampaknya Rhoma berusaha mewujudkan harapan pada dekade tahun 60-an, yaitu melakukan dakwah melalui seni, seperti yang dilakukan oleh mubaligh / sunan tanah Jawa dahulu kala.
AL QURAN DAN KORAN
Dari masa ke masa manusia
Berkembang peradabannya
Hingga dimana- mana manusia
Merubah wajah dunia
Gedung gedung tinggi mencakar langit
Nyaris menghiasi segala negeri
Bahkan teknologi di masa kini
Sudah mencapai kawasan samawi
Tapi sayang disayang manusia
Lupa diri, tinggi hati
Lebih dan melebihi tingginya
Pencakar langitnya tadi
Sejalan dengan roda pembangunan
Manusia makin penuh keisbukan
Sehingga yang wajibpun diabaikan
Sujud lima waktu menyembah Tuhan
Karena dimabuk oleh kemajuan
Sampai computer dijadikan Tuhan
(Yang benar aje)
Kalau bicara tentang dunia
Aduhai pandai sekali
Tapi kalau bicara agama
Mereka jadi alergi
Membaca Koran jadi kebutuhan
Sedang Al Quran Cuma perhiasan
Bahasa Inggris sangat digalakkan
Bahasa Arab katanya kampungan
(nggak salah tuh)
Buat apa Berjaya didunia
Kalau akhirat celaka
Marilah kita capai bahagia
Di alam fana dan baqa
Dibandingkan dengan syair lagu pop biasa, lagu dangdut menjadi satu bagian baru dalam musik hiburan Indonesia, sayir dengan nilai etis diperjuangkan secara gigih pada masa itu. Intimitas yang lahir mewakili keadaan sehari-hari masyarakat luas, sementara fatwa-fatwa menjadi bagian dari tradisi disini. Misalnya lagu Makan Hati yang dinyanyikan Rita Sugiarto:
Buat apa tampan kaualu makan hati
Lama-lama mati bunuh diri
Biar jelek asal sayang sampai mati
Biar miskin asal kaya di hati
Biar jelek asal sayang
Biar miskin, kaya hati
Apa gunanya tampan
Kalau jadi pikiran
Apa gunanya istana
Bagaikan neraka
Daripada ku merana
Hidup selalu menderita
Lebih baik sederhana
Asal hidup bahagia
Banyaknya syair lagu dangdut yang akrab dengan masyarakat bawah, memberikan catatan plastis tentang arti kemiskinan. Keadaan itulah dangsut begitu menyatu dengan peri kehidupan masyarakat umum. Dangdut menjadi jembatan yang mewakili keadaan sosial masyarakat kita yang sesungguhnya. Syair dangdut yang memelas tidak sampai menjadi nelangsa seperti dalam musik pop. Tercatat pula beberapa penyanyi lagu pop ataupun rock yang mencoba peruntungan disini. Contohnya lagu Zakia yang dinyanyikan Achmad Albar dengan aransemen dari Ian Antono
Zakia, Zakia
Penari gurun pasir ternama
Zakia, Zakia
terpesona aku melihatnya
Zakia, Zakia
Begitulah panggilan namanya
Semua yang melihat
Tak dapat melupakannya
Era Lomba Cipta Lagu Remaja
Sebetulnya semangat membuat sesuatu yang baru telah dilakukan sejumlah pemusik semisal Harry Roesli, Leo Kristi, Guruh Gipsy, dan yang lainnya. Tapi, karya-karya semacam itu tak pernah dilirik oleh para pengusaha rekaman, karena dianggap tidak memiliki daya jual. ”Saat itu musik pop kita tak ubahnya dagangan yang hampir tidak memikirkan kualitas,’ ungkap Sys NS, salah satu panitia LCLR Prambors. Maka diantara derasnya musik dangdut ini terdapat sebuah lomba lagu pop paling legendaris di sejarah musik pop Indonesia.
Memang, pada saat itu telah kokok berdiri ajang Festival Lagu Pop Indonesia yang dirintis sejak tahun 1971. Tapi, ajang ini dari tahun ke tahun terbelenggu dalam pola musik yang nyaris tak berkembang. Justru LCLR bisa dianggap lebih hirau dengan tren musik yang tengah berkecambah di penjuru dunia.
Itu jelas tercermin pada Lomba Cipta Lagu Remaja 1977 yang berhasil menetaskan lagu Kemelut karya Junaedi Salat sebagai juara 1 dan Lilin-lilin Kecil karya James F Sundah yang terpilih sebagai lagu yang paling banyak disukai pendengar dengan istilah ala Prambors: ‘Lagu Tersayang’.
Dari deretan 10 pemenang LCLR 1977, itu terdapat tiga tembang yang diciptakan oleh Kelompok Vokal SMA III Jakarta yang berada di kawasan Setiabudi, masing-masing Akhir Sebuah Opera, Angin, dan Di Malam Kala Sang Sukma Datang. Siswa siswa SMA III yang menulis lagu-lagu itu adalah Fariz RM, Adjie Soetama, dan Raidy Noor, yang di kemudian hari dikenal sebagai penggerak musik pop Indonesia.
Pada LCLR 1978 terpilih lagu Khayal karya Christ Kaihatu dan Tommy WS sebagai juara 1. Namun, lagu Kidung karya Christ Manusama, terpilih sebagai ‘Lagu Tersayang’ berdasarkan polling pendengar.
Dari ajang LCLR ini tercatat menghasilkan sederet pencipta lagu yang kemudian memberikan kontribusi terhadap konstelasi musik pop Indonesia mulai dari James F Sundah, Baskoro, Chris Manuel Manusama, Harry Sabar, Fariz RM, Raidy Noor, Adjie Soetama, Ikang Fawzy, dan Dian Pramana Poetra. Terus ada lagi nama Bagoes A Ariyanto, Sam Bobo, Christ Kaihatu, Tommy Marie, Ingrid Widjanarko, Denny Hatami, Edwin Saladin, Didi AGP, Iszur Muchtar, Yovie Widianto, Bram Moersas, Roedyanto, dan banyak lagi.
Gaung ajang LCLR ini memang menggetarkan industri musik pop negeri ini. Secara kebetulan, pada era 1977-1978 sederet pemusik kita memang tengah bersemangat menghasilkan karya-karya yang merupakan alternatif dari musik pop yang tengah bertahta. Mereka adalah Chrisye, Keenan Nasution, Eros Djarot, God Bless, Noor Bersaudara, Harry Roesli, Giant Step, dan masih banyak lagi. Dibawah ini ada sepenggal syair lagu Apatis yang dinyanyikan oleh Benny Soebardja. Dari sini dapatlah dilihat kekayaan bahasa yang dituliskan:
Roda-roda terus berputar
Tanda masih ada hidup
Karena dunia belum henti
Berputar melingkar searah
dst
Era Syair Sastra Akhir 70-an Dalam Musik Indonesia
Beralih dari musim dangdut, suatu ketika tersisip nama Chrisye. Kehadiannya termasuk penting, syair diolah dengan manis, termasuk gaya syairnya. Salah satu lagu yang dinyanyikan Chrisye adalah yang diciptakan oleh Guruh Soekarnoputra. Sepintas syair yang kaya dengan bahasa Sansekerta ini seolah menjadi pembaharuan, tetapi lama-lama terasa terlalu perlente, dibuat-buat dan tidak intuitif.
SMARADHANA
Ratih dewi citra khayalku prana
Dalam hidupku yang haus akan asmara
Hm, nikmatnya bercinta
Andika dewa
Sirna duli sang asmara
Merasuk sukma menyita heningnya cipta
Oh, resahku jadinya
Prahara nestapa
Seakan tak kuasa
Membendung asmara insane sedang bercinta
Gelora asmara di samudra cita
Melenakan daku dibuai asmara
Disamping lagu itu dalam kaset yang sama, juga terdapat ciptaan Junaedi Salat berjudul Duka Sang Bahaduri, juga sarat dengan bahasa sansekerta, lengkap pula dengan kamusnya.
Pudar masa bergenit-genit dengan bahasa Sansekerta, pada paruh kedua dekade 1970-an, kita berjumpa dengan corak syair yang menawan, yang tahan kritik, bahkan melalui kritik sastra. Yang dimaksud disini antara lain adalah Franky & Jane, Ebiet G Ade. Hadirnya Ebiet sangat berarti karena berhasil membuktikan, sastra bukanlah sesuatu yang elit, tetapi sesuatu yang menyatu dengan kehidupan masyarakat tradisional. Dapat diperhatikan betapa puisi Ebiet dinyanyikan:
UNTUK KITA RENUNGKAN
Kita mesti telanjang
Dan benar-benar bersih
Suci lahir dan di dalam hati
Tengoklah kedalam
Sebelum bicara
Singkirkan debu yang masih melekat
Anugrah dan bencana
Adalah kehendak-Nya
Kita mesti tabah menjalani
Hanya cambuk kecil
Agar kita sadar
Adalah Dia diatas segalanya
Anak menjerit-jerit
Asap panas membara
Lahar dan badai menyapu bersih
Ini bukan hukuman
Hanya satu isyarat
Bahwa kita mesti banyak berbenah
Syair Lagu Kritik Sosial
Pada masa ini pula munculah beberapa nama yang menyanyikan lagu kritik dan protes pada kehidupan sosial politik yang terjadi. Hasilnya, beberapa lagu dilarang dikumandangkan di media apapun oleh pemerintah, misalnya lagu Rayap-rayap yang dinyanyikan Mogie Darusman, ataupun Orexas (Organisasi Sex Bebas). Yang lebih agak beruntung diantara mereka adalah Iwan Fals dan Doel Sumbang. Lagu mereka tidak dilarang beredar, tetapi kehadiran mereka di televisi sangat dilarang. Padahal pada saat itu televisi adalah adalah sarana efektif disampin radio untuk mempromosikan sebuah lagu. Dibawah ini adalah syair lagu Iwan Fals rasa kehilangan terhadap sosok ideal pimpinan bangsa Indonesia yang tak mungkin ada disosok rezim orba pada saat itu:
BUNG HATA
Tuhan terlalu cepat semua
Kau panggil satu-satunya yang tersisa
Proklamator tercinta
Jujur luhur dan bijaksana
Mengerti apa yang terlintas dalam jiwa
Rakyat Indonesia
Hujan air mata dari pelosok negeri
Saat melepas engkau pergi
Berjuta kepala tertunduk haru
Terlintas nama seorang sahabat
Yang tak lepas dari namamu
Terbayang baktimu, terbayang jasamu
Terbayang jelas jiwa sederhanamu
Bernisan bangga
Berkafan doa dari kami
Yang merindukan orang sepertimu
Syair Lagu Indonesia Tahun 80-an
Tak dapat disangkal lagi bahwa era musik pada tahun 80-an ini adalah merupakan masa keemasan dunia musik di Indonesia. Beragam jenis musik maupun gaya syair berkibar di masa ini. Tetapi bagaimanapun juga dominasi Rinto Harahap tampaknya begitu kuat menguasai pasaran lagu pop Indonesia, lewat beberapa orang penyanyi pada saat itu, antara lain Nur Afni Oktavia, Iis Sugianto, Christine Panjaitan dan lain-lain. Jika menyebut nama Rinto, maka yang terbayang adalah jeritan “sayang” dalam ciptaan-ciptaannya. Lagu-lagu yang teramat cengeng, mendayu-dayu, lembek, manja, kenes, pucat bagaikan tanpa darah ini ternyata justru membuat Rinto Harahap menjadi kaya raya karena laku keras di pasaran. Pada masa ini pula muncul ungkapan yang mengejek orang berpenampilan gagah tetapi hatinya cengeng “ Tampang Rambo, berhati Rinto”. Dibawah ini ada dua lagu Rinto yang dinyanyikan oleh Hetty Koes Endang dan yang kedua dinyanyikan oleh Grace Simon.
ADAKAH HARAPAN
Seribu hari sudah ku hidup begini
Tak sekalipun kau datang
Apa sudah tiada arti diriku ini
Jawablah hati ini sayang
Masihkah kau ingat
Masihkah kau harap
Seperti janjimu ini
Oh …sayang
Adakah harapan
Untuk dirimu
Menunggu menanti lagi
AKU TAK PERCAYA LAGI
Hei….manakah….???
Aku ini bukan hanya untuk mainan
Hei…manakah…???
Hanya dusta yang kau lakukan pada diri ini
Sedangkan dustakupun tak pernah….!!!
Oh…usahlah kau merayuku lagi
Sedangkan gitar ku tak punya…!!!
Oh…sudahlah…sudahlah….!!!
Aku tak percaya lagi aku tak ingin menangis lagi
Hanya engkau milikku sayang….
Oh….janganlah jangan aku tak sanggup!!!
Tak salah lagi, Rinto Harahap contoh paling nyata untuk syair lagu cengeng pada dekade awal 80-an. Syair dengan titik-titik, tanda seru dan tanda tanya yang banyak, adalah cerminan labilitas sekaligus ketidak-mampuan mengungkapkan perasaan melalui gugusan kata yang pas, terpilih dan tidak mubadzir. Pada era ini jenis lagu yang mendominasi adalah lagu pop yang mendayu-dayu, bertempo lambat dan cenderung berkesan cengeng. Rinto Harahap, Pance Pondaaq, A Ryanto, dan Obbie Mesakh adalah nama-nama pencipta lagu yang cukup produktif di era ini. Inilah masanya lagu patah hati! Nama-nama seperti; Nia Daniaty, Betharia Sonata, Ratih Purwasih, Iis Sugianto, adalah beberapa nama yang merupakan spesialis lagu sedih Harmoko yang waktu itu menjabat sebagai mentri Penerangan,menyebut lagu mereka sebagai lagu ‘ngak-ngik-ngok’ dan melarang peredaran lagu-lagu jenis ini dengan alasan, membuat mental bangsa menjadi lemah, masyarakat jadi cengeng dan malas bekerja. Tapi apa ada korelasinya? Dan apa itu sudah sesuai dengan kapasitas dia sebagai mentri penerangan untuk melakukan pelarangan terhadap sebuah aliran musik?
Tetapi bagaimanapun juga jenis syair seperti ini mengkhalayak di kalangan usia pubertas, pada akhirnya membosankan juga. Dan pada saat itu, masyarakat menginginkan suatu yang baru. Titiek Puspa dapat membaca suasana ini, maka dengan kata-kata sederhana dan cenderung miskin, lahirlah lagu Apanya Dong, yang dinyanyikan oleh Euis Darliah. Begitu membuminya lagu ini, hingga anak-anak kecilpun hafal, dikarenakan karena mudahnya:
Apa-apanya dong
Apanya dong, apanya dong
Apa-apanya dong
Apanya dong dang ding dong
Dari lagu itu dapat ditangkap bahwa bahasa yang dipakai tidaklah merupakan bahasa Indonesia baku, tetapi hal ini justru sangat intim dengan masyarakat. Selain itu dengan berkembangnya musik new wave terasa juga mempengaruhi musik di Indonesia, percampuran antara pop dan new wave ini yang kemudian membuahkan pop progresif / pop kreatif ala Indonesia.
Di tengah derasnya aliran cengeng sebenarnya ada beberapa musisi yang tetap konsisten dengan aliran mereka yang tidak terbawa arus untuk memainkan musik yang meratap-ratap. Diantaranya ada Fariz RM, Vina Panduwinata, Gombloh dan lain-lain. Musik mereka sering disebut sebagai musik pop kreatif. Lagu Vina yang berjudul ‘Burung Camar’ bahkan jadi hits dimana-mana. Kemudian Fariz RM dengan lagu New Sakura-nya, ataupun Gank Pegangsaan dengan lagu Dirimu. Dalam lagu Dirimu, Gank Pegangsaan yang diawaki oleh Nasution bersaudara memberikan nuansa cinta kasih yang indah dengan baluran kata sastra.
DIRIMU
Dibening malam ini
Resah rintik gerimis datang
Menghanyutkan sinar rembulan
Bulan kaca jendela
Seburam waktu yang berlalu
Sedang ku masih menunggu
Ungkapan rasa dari keinginan baiku
Untuk menempuh jalan hidup
Tak usahlah kau ingat
Bayangan gelap kenyataan
Diri tanpa sutradara
Relakan niat tangan
Menghapus noda kehidupan
Dirimu diharapanku
Tetaplah puth demi keinginan baikku
Untuk bersama menempuh jalan hidup
Kuingin slalu dekapmu sepanjang hidupku
Membawa kepuncak bahagia
Kuingin slalu dekatmu nikmati mentari
Mendekapmu dibawah cahayanya
DI era ini musik rock juga sempat berjaya meski hanya sebentar, bebrapa nama seperti, Ikang Fauzy, Nicky Astria, Gito Rollies, dan beberapa group rock seperti God Bless. Nicky Astria bahkan manjadi ikon Rocker cewek Indonesia setelah era-nya Euis Darliah.
Patut pula dicatat di dekade ini terjadi kebangkitan musik rock Indonesia, dengan terbitnya album ke-2 dari God Bless (Semut Hitam) yang juga mempengaruhi corak nuansa rock pada beberapa lagu Indonesia setelah itu. Satu hal yang patut ditelaah adalah kesan rock dengan kritik sosial yang sangat dominan pada syairnya, yaitu tidak cengeng:
SEMUT HITAM
Semut semut hitam yang berjalan
Melintas segala rintangan
Sat semboyan didalam tujuan
Cari makan lalu pulang
Yo ikut langkah yang terdepan
Yo ikut kan kiri ke kanan
Semut semut seirama
Semut semut yang senada
Nyanyikan hymne bersama
Makan-makan-makan
Catatan : Tentang ulasan musik rock Indonesia dan perkembangannya tidak ditulis secara mendetil disini karena tulisan ini lebih untuk menyorot perkembangan musik pop di Indonesia, kecuali yang terkait dan berpengaruh pada perubahan corak dan syair lagu pop Indonesia.
Masa Musik Pop Rock Syair Cengeng di Indonesia
Akibat Harmoko melakukan pelarangan terhadap musik ,ngak-ngik-ngok’ akhirnya, aliran musik cengeng ini menjadi surut, dan musik pop Indonesia seperti kehilangan arah. Dampak positifnya musik dangdut menjadi lebih hidup dan meriah. Bahkan banyak dari para penyanyi yang tadinya beralirab pop dan rock beralih ke dangdut dan kemudian tercipta jenis musik baru yaitu pop dangdut! Obbie Mesakh sukses menciptakan lagu Mobil dan Bensin yang dinyanyikan Santa Hokki, dan kemudian jenis lagu ini seperti merajalela. Jefry Bule kemudian menjadi sangat terkenal sebagai pencipta lagu musik jenis ini. Doel sumbang pun yang biasanya menyanyikan lagu daerah dan protes sosial mencoba keberuntungan di jenis musik ini dan sukses, lagunya yang berjudul Gantengnya Pacarku yang dinyanyikan Nini Karlina semakin memperkuat eksistensi musik jenis ini yang akhirnya mengarah ke jenis musik rancak sedikit disco.
Disaat yang bersamaan saat musik Pop Indonesia kehilangan greget, masuklah grup band Search, musisi dari negeri jiran, Malaysia dengan lagunya ‘ Isabela’ dan langsung menjadi hits! Lagu Isabella inilah yang menjadi lokomotif bagi musisi dan lagu-lagu Malaysia lainnya untuk membanjiri pasaran musik Indonesia. Beberapa nama yang menjadi terkenal kemudian adalah Iklim, Ella, Nora, dan lain-lain. Saat itu musik Malaysia benar-benar merajai musik Indonesia.
Beberapa musisi Indonesia , meniru gaya mereka dan menciptakan trend musik baru pop rock. Nama seperti, Dedy Dores, Nike Ardilla, Inka Christy, dan masih banyak lagi begitu seragamnya menyanyikan lagu ini. Nike Ardila membuat terobosan gaya dalam berpenampilan rock. Musik rock yang biasanya di nyanyikan dengan sangar tiba-tiba saja menjadi lembut dan mendayu-dayu dengan gaya seadanya, sekedar bergoyang sedikit dan memainkan ekspresi muka ternyata ia di terima masyarakat luas! Dan kembalilah syair lagu cengeng diterima dengan bersemangat oleh masyarakat Indonesia. Tercatat Dedy Dores menjadi pencetak rocker cengeng yang paling produktif di era pertengahan 80-an ini. Yang paling unik dalam aransemennya adalah banyak dari lagu mereka yang menjiplak habis-habisan lagu-lagu slow rock dari grup band manca negara. Penampilan sangat rocker, dengan menggunakan distorsi gitar yang tajam, tetapi syairnya tetaplah cengeng.
Era Syair Sastra Tahun 80-an Dalam Musik Indonesia
Ditengah gelombang musik pop rock cengeng ini kemudian juga berkembang musik pop dengan sentuhan jazz . Pelopornya seperti dalam awal sejarah musik Indonesia adalah orang-orang Ambon. Nama-nama Chris Kayhatu, Jopie Latul, Utha Likumahua kemudian disusul oleh nama-nama Jopie Item, Ireng Maulana dan lain-lain. Syairnya masih meliputi hal tentang cinta tetapi dengan bahasa yang lebih kaya lagi. Salah satu contohnya adalah lagu yang dinyanyikan Utha Likumahua. Lagunya masih dengan tema cinta tapi dikemas dengan tidak cengeng bahkan cenderung puitis.
ESOK KAN MASIH ADA
Wajahmu kupandang dengan gemas
Mengapa air mata slalu ada di pipimu
Hai nona manis biarkanlah bumi berputar
Menurut kehendak yang Kuasa
Apakah artinya semua derita
Bila kau yakin itu akan berlalu
Hai nona manis biarkanlah bumi berputar
Menurut kehendak yang Kuasa
Kemudian munculah pada akhir 80-an grup band KLA Project yang diawaki oleh Katon Bagaskara, Lilo, Adi, dan Ari yang pada album pertamanya dibantu pula oleh Sisca sebagai backing vokalnya. Grup yang satu ini membawa kembali nuansa puitis pada syair lagunya misalnya lagu Tak Bisa Ke Lain Hati:
Bulan merah jambu
Luruh di kotamu
Kualun sendiri
Langkah-langkah sepi
Menikmati angin
Menabuh daun-daun
Mencari gambaranmu
Diwaktu lalu
Sisi ruang batinku
Hampa rindukan pagi
Tercipta nelangsa
Menembus sukma
Terwujud keinginan
Yang tak prnah terwujud
Aku tak bisa pindah
Pindah ke lain hati
Memang sebagian besar lagu KLA bertemakan tentang cinta, tetapi pengemasan syair yang luar biasa inilah yang menjadikan cinta bukan sebagai kecengengan lagi. Rupanya musik dan penulisan syair gaya KLA dikemudian hari ini menginspirasi banyak grup sejenisnya setelah itu, sebut saja Java Jive, Jikustik, Kahitna, dan lain-lain.
Kebangkitan Musik Rock Indonesia
Log Zhelebour, seorang EO musik yang berasal dari Surabaya, tampaknya geram dengan gelombang musik cengeng yang melanda Indonesia di pertengahan tahun 80-an. Ia dengan idealismenya pada musik rock, mencoba membuat festival band rock skala nasional, disamping itu juga mengangkat kembali nama dedengkot rock Indonesia God Bless. Beberapa grup band rock yang lahir dari festival itu maupun yang tak turut dalam festival telah mewarnai dunia rekaman, misalnya El Pamas, Roxx, Sahara, Jet Liar, Red Spider, Andromeda, Boomerang, Power Metal, Voodo, dan lain-lain. Satu yang patut dicatat disini adalah tema yang dibawakan tidak lagi melulu mengusung soal cinta, juga tentang gaya hidup rock dan metal yang kala itu mewabah pada awal tahun 1990-an bersamaan dengan gelombang glam rock yang sedang melanda dunia. Sebagai contoh lagu dari Roxx, grup dari Jakarta yang berjudul Rock Bergema:
Jika engkau banyak problema
Yang menghantui dirimu
Janganlah engkau bermuram durja
Bila kau tak kuasa melepasnya
Jika engkau dilanda asmara
Yang membuat engkau gelisah
Datanglah datang pada kami
Untuk mendengarkan rock n roll
Hei engkau yang berjiwa muda
Dan yang cinta akan musik
Mari bernyanyi bersama-sama
Dengan irama rock n roll
Tetapi bagaimanapun juga syair lagu cinta ternyata masih menjadi primadona di era ini, justru yang menjadi lagu unggulan dari angka penjualan kaset itu adalah lagu slow rock / rock balada dengan syair cinta, misalnya lagu dari grup Voodo:
SALAM UNTUK DIA
Senja datng sambut-sambutlah
Iringi langkahku lalui sunyinya malam
Ku berjalan layangkan khayal
Tepiskan duka
Sendiri ku melangkah
Saat itu ku melihat seraut wajah
Yang pancarkan rasa
Sejenak aku terlena
Akan indahnya dia
Smapaikan salamku
Untuk dia
Yang bangkitkan jiwa
Sampaikan salamku untuk dia
Menyentuh batinku
Tergores dalam lamunanku
Jika diperhatikan meski membawa tema tentang cinta, syair lagu-lagu rock yang popular pada masa itu tidaklah terkesan cengeng karena dibalut oleh rangkaian kata yang indah guna melambangkan suasana hati.
Juga patut dicatat adalah grup rock Slank asal Jakarta yang mendobrak serta membumikan lagu-lagunya menjadi akrab dengan para penikmat musik pop Indonesia. Lagu-lagu mereka pada awalnya berkisar antara cinta dan kesengsaraan cinta, tapi karena balutan musik rock, maka tak terdengar cengeng sama-sekali:
MAAFKAN
Kau datang padaku
Saat ku luka
Luka dengan sejuta kecewa
Yang hempaskan tubuhku
Remukkan dada
Namun lembut belaimu
Balutkan luka
Kau kecup bibirku
saat ku muak
muak dengan sesaknya asmara
yang mebuatku muntah
lepaskan dendam
namun hangat bibirmu
redakan duka
maafkanlah aku acuhkan dirimu
waktu pertama kali tersenyum padaku
maafkanlah aku jejali dirimu
dengan segala kisah sumpah serapah itu
Band fenomenal ini telah mengusung gaya penulisan syair yang asal-asalan dan berani menggambarkan gaya hidup pada masanya secara blak-blakan. Hal inilah yang menyebabkan lagu Slank mudah diterima penikmat musik pop.
Ternyata gaya syair yang cenderung blak-blakan tanpa tendang aling-aling bahkan cenderung vulgar ugal-ugalan ini banyak pula mempengaruhi grup yang lain setelah masa itu, misalnya saja Jamrud, dengan lagunya Otak Kotor:
Kepalaku jadi pening lihat gayamu
Selalu mengajakku tuk berpikir mesum
dsb
Dalam era ini juga terselip juga tren lagu rap yang dipopulerkan oleh Iwa K. merupakan upaya perpaduan antara musik rap dengan syair campuran bahasa tak baku baik bahasa Indonesia, Inggris maupun bahasa yang lain.
Dan pada era ini pula Setyawan Djodi miliuner Indonesia yang pada tahun 1970-an sempat Berjaya dengan band panggungnya Trencem, mencoba membuat suatu proyek idealis bersama dengan Sawung Jabo, Ini Sisri, Iwan Fals, Totok Tewel, ditambah dengan WS Rendra. Proyek Yang bernama Kantata Takwa ini merupakan suatu proyek penggabungan antara musikalis puisi dengan arah pandang kritik sosial, sempat mendapat tanggapan yang sangat positif dari masyarakat.
Era Lagu Anak-Anak Kedua
Ditengah arus lagu untuk dewasa pada tahun 90-an ini maka lahirlah era lagu anak-anak yang kedua, berselang hampr 20 tahun setelah era yang pertama. Banyak penyanyi anak-anak yang bermunculan di era ini, antara lain Joshua, Agnes Monica, Bondan Prakoso, Tina Toon, Eno Lerian, Trio Kwek-Kwek dan lain-lain. Tema yang dibawakan dalam syair-syairnyapun bervariatif, antara lain tentang alam fikir anak-anak, tentang belajar berhitung, tentang mama-papa, tentang keindahan alam dan bahkan ada juga lagu orang dewasa yang dinyanyikan versi lagu anak-anak. Tampak betapa keluguan dari anak-anak telah menjadi komoditas industry rekaman saat itu. Meskipun syair yang sederhana dan gaya nyanyi yang lugu ternyata banyak menarik para pendengarnya, contohnya lagu yang dinyanyikan Joshua, Diobok-Obok:
Diobok-obok airnya diobok-obok
ada ikannya, kecil-kecil pada mabok
Diputer-puter kerannya diputer-puter
Airnya banjir aku jadi mandi lagi
Dst
Atau lagu Eno Lerian yang berjudul Dakocan.
Anjut-anjutan
Jalannya delman
Kudanya lari anjut-anjutan
Lagu anak-anak ini seolah menjadi wabah, setiap orang tua mengimpikan anaknya menjadi penyanyi, sampai Papa T Bob pencipta sekaligus produser lagu semakin kualahan. Hingga pada suatu saat karena banjirnya lagu anak-anak, maka makin miskinlah tema dan yang paling parah adalah cara nyanyi asal-asalan akhirnya menjadi klise. Kemudian munculah unsur estetika dalam penulisan dan aransemen serta cara menyanyi lagu anak-anak itu. Tersebutlah beberapa nama yang kemudian menyanyikan lagu-lagu anak ini dengan gaya yang teratur, antara lain Serina, Tasya dan sebagainya.
Era Musik Pop Rock / Alternatif Rock Gelombang Kedua
Derasnya arus musik rock murni tahun 90-an ini kemudian beralih ditandai dengan munculnya grup band Dewa 19 asal Surabaya, yang mengusung konsep pop rock dalam lagu-lagunya. Lagu-lagu rock lembut ini melulu bersyairkan tentang cinta. Tema yang semula mengembang dalam penulisan syair musik Indonesia kembali lagi didominasi oleh cinta dan kesengsaraan yang klise yang justru amat digemari para penikmat musik pop Indonesia. Contohnya adalah lagu Cinta Kan Membawamu Kembali:
Tiba saat mengerti
Jerit suara hati
Letih meski mencoba
Menabukan rasa yang ada
Mohon tinggal sejenak
Lupakan aku dsb
Penerimaan masyarakat atas syair-syair lagu seperti ini ternyata memberikan angin segar kepada beberapa grup band yang lain. Misalnya saja Sheila on7 membuat gebrakan, lagunya yang berjudul ‘ Dan’ jadi Hits bahkan lagu lainnya yang berjudul ‘Kita’ seakan jadi lagu wajib untuk acara kumpul-kumpul atau nongkrong. Secara musikalitas sebenarnya tak ada yang istimewa dari group musik asal Jogja ini. Suara Duta biasa-biasa saja, tampang mereka juga kampung banget tapi lagu mereka yang baru bener-bener berbeda, ada kesan indie dan liriknya remaja banget, lugas dan apa adanya. Album pertama mereka terjual lebih dari 2 juta keping. Bahkan album mereka juga laris manis di Malaysia dan Singapura.
KITA
Disaat kita bersama
Diwaktu kita tertawa, menangis
Merenung oleh cinta
Kau coba hapuskan rasa
Rasa dimana kau melayang
Jauh dari jiwaku juga mimpiku
Biarlah, biarlah
Hariku dan harimu
Terbelenggu satu
Oleh ucapan manismu
Dan kau bisikan kata cinta
(**)
Kau t’lah percikan rasa sayang
Pastikan kita seirama
Walau terikat rasa hina
Sekilas kau tampak layu
Jika kau rindukan gelak tawa yang
Warnai lembar jalan kita
Reguk dan teguklah
Mimpiku dan mimpimu
Terbelenggu satu
Oleh ucapan janjimu
Beberapa label rekaman kemudian mengeluarkan album kompilasi dari beberapa group musik yang mengambil aliran alternatif dan ternyata laris manis. Produser musik tentu saja senang karena dengan modal kecil mereka dapat keuntungan besar. Akhirnya album-album kompilasi jadi trend waktu itu. Beberapa nama yang berhasil terangkat dari trend ini yaitu; Padi, Cokelat, Air, Wong, Peterpan, dan masih banyak lagi.
Padi group band keluaran dari musik kompilasi itu pada akhirnya membuat album solo sendiri. Album baru mereka ‘lain Dunia’ laris dimana-mana dan juga terjual lebih dari 2 juta keping! Yang perlu dicatat adalah album mereka terjual disaat krisis moneter melanda Indonesia.
Selain itu juga dari Bandung munculah grup band Gigi yang dikomandoi oleh Armand Maulana. Sebagian besar lagu dari Gigi-pun bertemakan tentang cinta, tapi tidak cengeng, misalnya lagu Damainya:
Sinar matamu
Pancarkan kedamaian
Yang slama ini
Kita impikan
Lirih suaramu
Taburkan kesejukan
dst
Tapi yang juga patut dicatat adalah kehadiran dari Nugie, adik kandung dari Katon Bagaskara. Jika sang kakak bermain di jalur pop maka Nugie ke jalur rock. Satu hal yang menarik dari syair-syair lagu Nugie, adalah tidak banyak bicara tentang cinta yang meratap, tetapi ia bicara tentang kondisi sosial, alam lingkungan, maupun persahabatan. Misalnya saja lagu Tertipu, Teman Baik, Burung Gereja, ataupun Pembuat Teh.
Dan ada jebolan dari band album kompilasi yang lain, Cokelat tidak hanya mengemas tema derita cinta saja, ada lagu hits dari Cokelat yang sekarang memiliki kedudukan istimewa seperti juga lagu Gombloh yaitu Kebyar-Kebyar pada saat hari Kemerdekaan RI diperingati, yaitu Bendera:
Biar saja ku tak sehebat matahari
Tapi slalu ku coba tuk menghangatkanmu
Biar saja ku tak setegar batu karang
Tapi slalu ku coba tuk melindungi
Biar saja ku tak seharum bunga mawar
Tapi slalu ku coba tuk mengharumkanmu
dst
Tetapi apakah memang selera, ataukah memang mental bangsa kita yang cenderung melankolis bahkan apatis, sehingga tema-tema syair yang menggugah ini tak banyak di ikuti oleh pencipta lagu, meski bangsa Indonesia menjelang tahun 2000 telah mengalami gejolak politik yang amat keras yang juga menyebabkan krisis moneter penyebab menambahnya jumlah penggangguran di mana-mana sebenarnya adalah suatu fenomena yang dapat mendorong seseorang untuk menciptakan lagu dengan syair yang kreatif.
Syair Lagu Indonesia Pasca Reformasi Hingga Tahun 2008
Masuknya irama nasyid yang diusung oleh kelompok vokal Raihan dari Malaysia, ternyata menjadi tren bagi para musisi. Dimana-mana bertumbuhan grup vocal nasyid ataupun lantunan shalawat dari penyanyi-penyanyi solo. Irama rancak pengiring nasyid inilah yang memberikan suasana tersendiri bagi bangsa kita yang memang sangat akrab dengan budaya Islami serta alat perkusi yang bertalu-talu. Dan para produser rekamanpun berlomba-lomba memburu pelantun shalawat guna direkam dan dijual. Salah satu musisi sekaligus pencipta lagu yang mampu menangkap peluang ini adalah Opick. Opick yang semula adalah penyanyi dan pencipta lagu rock berpindah haluan ke khazanah musik religi ini. Meski ada beberapa lagunya yang merupakan daur ulang lagu religi jaman dahulu, tetapi kenyataannya mampu menarik hati para pendengar. Misalnya lagu Tombo Ati:
Tombo ati iku limo perkarane
Kaping pisan moco Qur’an lan maknane
Kaping pindho sholat wengi lakonono
Kaping telu wong kang sholeh kumpulono
Kaping papat kudhu weteng ingkang luwe
Kaping limo dzikir wengi ingkang suwe
Salah sawijine sopo biso ngelakoni
Mugi-mugi Gusti Allah nyembadani
Obat hati ada lima perkaranya
Yang pertama baca Qur’an dan maknanya
Yang kedua sholat malam dirikanlah
Yang ketiga berkumpulah dengan orang sholeh
Yang kempat perbanyaklah berpuasa
Yang kelima dzikir malam perpanjanglah
Salah satunya siapa bisa menjalani
Moga-moga Gusti Allah mencukupi
Bahkan grup band seperti Gigi-pun pada akhirnya mengikuti jejak melantunkan lagu-lagu qasidah yang dikemas secara modern, mislanya saja lagu Perdamaian yang terkenal di tahun 1970-an. Juga lagu Akhirnya, Rindu Rasul yang dikemas dalam album Raihlah Kemenangan
Ternyata lagu-lagu bernafaskan religi ini merupakan pasar yang sangat luas sampai dengan sekarang, terbukti beberapa grup band, seperti Ungu, ST 12 dan sebagainya, menyempatkan diri membuat album khusus religi. Bahkan semarak sinetron bertema religi akhir-akhir ini juga memberikan tempat bagi pada musik religi yang dijadikan sebagai lagu tema, misalnya saja lagu Para Pencari Mu oleh Ungu.
Berkaitan dengan lagu tema untuk film ataupun sinetron, seiring dengan menggeliatnya industri film Indonesia dan sinetron, ternyata telah memberikan angin segar bagi pencipta lagu Indonesia. Misalnya saja lagu Cinta Terahir (Gigi) sebagai lagu tema film Brownies
Tak semestinya ku merasa sepi
Kau dan aku ditempat berbeda
Seribu satu alasan
Melemahkan tubuh ini
Aku disini mengingat dirimu
Kumenangis tanpa air mata
Bagai bintang tak bersinar
Redup hati ini
Ataupun Izzy untuk lagu Kamu Nyata yang menjadi lagu tema D’Bijis
Andaikan aku bisa
Berikan kau harapan yang kau mau
Andai aku bisa
Berikan yang sempurna
Apa yang membuat kau bahagia
Andai ku bisa
Dst
Mungkin juga apabila kita lihat syair tema lagu Realita, Cinta dan Rock n Roll yang dinyanyikan oleh Ipang
ADA YANG HILANG
Aku hanya bisa terdiam melihat kau pergi
Dari sisiku dari sampingku
Tinggalkan aku seakan semua yang pernah terjadi
Tak lagi kau rasa
Dst
Lagu-lagu tema film ini sama seperti juga tema yang diusung oleh industri film sendiri, yaitu tentang percintaan, kesengsaraan cinta, penuh rintihan ketiada berdayaan selain juga tema setan-setanan. Mungkin yang agak berbeda adalah lagu tema film Tarix Jabrix yang dinyanyikan dan dibintangi oleh The Changcuters, I Love You Bibeh misalnya:
Biar kata nenek sihir
Bagiku kau Britney Spears
Oh..oh I Love You Bibeh
Biar kata mirip buaya
Bagiku Luna Maya
Oh…oh I Love You Bibeh
Dst
Luar biasa, dengan syair lagu seenaknya/ slengekan dengan irama rock n roll jaman tahun 60-an ini telah membuat The Changcuters melambung menjadi salah satu grup papan atas di Indonesia pada saat ini. Mungkinkah karena musik dan syair yang ringan, konyol dan sederhana inilah yang menarik bagi para penggemar lagu pop. Tetapi dari syair ini dapat dilihat juga campuran bahasa Indonesia tidak baku dengan bahasa Inggirs. Gejala ini tampaknya sejalan dengan terserapnya bahasa Inggris sebagai bahasa pergaulan di masyarakat. Tengok saja beberapa lagu ciptaan Melly Guslow yang kerap menyelingkan kalimat bahasa Inggris di dalam syair lagunya.
Seiring dengan meningkatnya perkembangan sastra di Indonesia, maka novel-novel seperti Ayat-Ayat Cinta, Laskar Pelangi dan sebagainya menarik minat industri film Indonesia. Novel-novel mereka difilmkan, dan lagu tema film yang juga melekat menjadi satu kesatuan dengan film itu sendiri juga. Contohnya Laskar Pelangi yang dinyanyikan oleh Nidji.
Mimpi adalah kunci
Untuk ita menaklukan dunia
Berlarilah tanpa lelah
Sampai engkau meraihnya
Laskar pelangi takkan terikat waktu
Bebaskan mimpimu diangkasa
Warnai bintang di jiwa
Menarilah dan terus tertawa
Walau dunia tak seindah surga
Bersyukurlah pada yang Kuasa
Cinta kita di dunia selamanya
Cinta kepada hidup memberikan senyuman abadi
Walau hidup kadang tak adil
Tapi cinta lengkapi kita
Dst
Betapa luar biasanya syair lagu diatas yang telah mengembangkan cinta tak sebatas rengekan keputus asaan, ataupun cinta pria dan wanita saja. Tetapi syair lagu diatas membawa tema kecintaan pada apa anugrah yang telah diberikan oleh Tuhan, tanpa harus berteriak-teriak atas nama Tuhan. Syair seperti inilah yang dapat melepaskan pakem meratap-ratap dari syair lagu Indonesia.
Sementara itu tumbuh berkembangnya industri sinetron telah pula mengangkat lagu-lagu menjadi lagu tema sinetron, misalnya seperti Para Pencari Mu tadi, bahkan sekarang justru syair-syair lagu itulah yang kemudian dijadikan tema bagi sinetron. Sebagai contoh lagu Kepompong yang dinyanyikan grup tunggal personil Sind3ntosca. Patut diacungi jempol ganda untuk Sind3ntosca, lagu bertema persahabatan ini telah member warna khusus bagi tema syair pop di Indonesia.
Dulu kita sahabat
Teman begitu hangat
Mengalahkan sinar mentari
Dulu kita sahabat
Berteman bagai ulat
Berharap jadi kupu-kupu
Kini kita melangkah berjauh-jauhan
Kau jauhi diriku karena sesuatu
Mungkin ku terlalu bertingkah kejauhan
Namun itu karena ku sayang
Dst
Pada dekade ini meski ada kemajuan inovatif dari syair-syair seperti tersebut diatas, tetapi tak dapat dipungkiri bahwa tema lagu cintalah yang paling laku dipasaran. Jangan dibicarakan tentang musiknya, yang penting syairnya menyentuh hati pastilah jadi pilihan bagi penikmat musik pop Indonesia. Entah itu musik dengan kemasan R n B, pop rock, pop, yangn penting santai dan melankolis pastilah menjadi lirikan mereka.
Di tahun-tahun 2000-an ini telah sering televisi swasta mengadakan bermacam-macam festival, baik untuk musik pop, rock, dangdut, tetapi ternyata dampaknya hanyalah pada penambahan penyanyi-penyanyi dadakan yang setengah instan, tidak pada proses penciptaan lagu. Memang ada beberapa stasiun televisi menggabungkan pula dengan lomba cipta lagu. Tapi hasilnya yang dilihat paling utama bukannya lagu yang tercipta tetapi munculnya idola baru di panggung hiburan.
Selera masyarakat lebih ke grup-grup musik di bandingkan dengan penyanyi yang bersolo karir. Beberapa penyanyi solo yang sempat berjaya perlahan redup di masa ini. Nama-nama yang masih bertahan hanya beberap gelintir, semisal; Krisdayanti, Titi Dj, dan Glen. Selebihnya musik di dominasi oleh group-group musik yang makin ramai oleh para pendatang baru. Nama-nama seperti; Peterpan, Ungu, Dewa, Gigi, Samson, Nidji, The Titans, dan Radja seakan mendominasi ruang musik Indonesia. beberpa solois memang ada yang baru dan berhasil, antara lain Tompi, Rio Febrian, Resa Herlambang, Bunga Citra Lestari, dan Afgan. Dan sebagai contoh sebuah syair lagu cinta diterima oleh masyarakat yang dinyanyikan oleh grup Samson.
KENANGAN TERINDAH
aku yang lemah tanpamu
aku yang rentan karena
cinta yang tlah hilang darimu
yang mampu menyanjungku
selama mata terbuka
sampai jantung tak berdetak
selama itu pun
aku mampu tuk mengenangmu
darimu, kutemukan hidupku
bagiku, kau lah cinta sejati
bila yang tertulis untukku
adalah yang terbaik untukmu
kan kujadikan kau kenangan
yang terindah dalam hidupku
namun takkan mudah bagiku
meninggalkan jejak hidupku
yang telah terukir abadi
sebagai kenangan yang terindah.
Atau lagu yang dibawakan oleh Afgan, yang selain menjadi panen karena lagunya juga telah menjadi trendcenter untuk penampilannya. Tetapi lagunya tetap juga berkisar soal cinta, hanya saja seperti juga Samson kesan cengeng meratap-ratap seolah hilang saat dibawakan oleh mereka.
TERIMA KASIH CINTA
Tersadar didalam sepiku
Setelah jauh melangkah
Cahaya kasihmu menuntunku
Kembali dalam dekap tanganmu
Terima kasih cinta
Untuk segalanya
Kau berikan lagi kesempatan itu
Dst
Tapi ada pula syair menarik yang dibawakan oleh Ada Band bersama Gita Gautawa, temanya adalah tentang rasa cinta pada figur ayah, paling tidak lagu ini menjadi pewarna dari dominasi syair lagu cinta pria dan wanita dari Ada Band. Judulnya adalah Yang Terbaik Bagimu. Syairnya ditulis secara runtut dan syahdu, membawa kembali pada kenangan masa lalu:
Teringat masa kecilku
Kau peluk dan kau manja
Indahnya saat itu
Buatku melamun
Disisimu terngiang
Hangat nafas segar harum tubuhmu
Kau tuturkan segala mimpi-mimpi serta harapanmu
Dst
Tapi inilah kebebasan ekspresi bagi seniman, dan mereka sangat tajam dalam menganalisa apa maunya pasar. Bahkan diantara lagu pop standar tahun 2000-an ini terselip pula irama goyang yang juga menjadi sajian penikmat musik pop di Indonesia. Beberapa lagu berirama dangdut disko menghangatkan speaker rumahan sampai dengan dering telepon seluler, misalnya saja lagu SMS yang dinyanyikan Ria Amelia:
Bang SMS siapa ini Bang
Bang pesannya pakai sayang, sayang
Bang nampaknya dari pacar abang
Bang hati ini mulai tak tenang
Bang tolong jawab tanyaku abang
Bang nanti hape ini ku buang
Bang ayo dong jujur saja abang
Bang kalau masih sayang
Dst
Bagaimanapun juga lagu diatas termasuk salah satu lagu yang fenomenal, karena begitu muncul langsung dibawakan bukan saja oleh Ria Amelia saja, tetapi tercatat oleh Trio Macan juga. Syairnya sederhana dengan bahasa yang sangat sederhana pula, tetapi mewakili kondisi jaman secara jujur, dimana teknologi telekomunikasi ponsel ini sudah bukan lagi monopoli kaum atas, tapi juga menjadi bagian hidup masyarakat bawah. Dan yang terbanyak dipakai bukanlah sebagai telephon tetapi alternatif komunikasi murah adalah SMS. Ternyata dampak telekomunikasi murah, portable dan personal ini juga memberikan kemudahan kegiatan berselingkuh. Hal ini pula menggambarkan bahwa Indonesia telah masuk kedalam arus globalidasi teknologi. Dan kemajuan teknologi informatika ini juga membawa pada dampak munculnya berbagai grup band indie yang mencoba mencari peruntungannya seraya mengembangkan sisi idealismenya melalui internet.
Mungkin keanekaragaman tema syair lagu di era 2000-an ini akhirnya membuat pening presiden Susilo Bambang Yudhoyono, sehingga Pak Presidenpun melepas sebuah album lagu pop, yang syairnya diciptakan oleh beliau, dengan tema syair syarat dengan kecintaan pada tanah air dan bangsa.
Akhir kata dari penulis, hanya inilah usaha maksimal mengumpulkan berkas tercecer dari sejarah musik terutama syair lagu Indonesia modern. Sebagian lagu-lagu yang ada di dalam tulisan ini dapat didengar di http://maspungky.multiply.com
Daftar Pustaka
Darmoyo Sindusawarno, Catatan Perjalanan Musik Di Indonesia 1940 -1983, 1983
Remy Silado, Peta Syair Lagu Populer Indonesia Selama 100 Tahun- Satu Amatan Soiologis, 1983
—————- ,Perkembangan Musik Indonesia, http://matajiwaku.multiply.com/journal/item/12/PERKEMBANGAN_MUSIK_INDONESIA
Budi Raharjo, Rekam Jejak Peristiwa: Musik Tahun 80-an,
http://rahard.wordpress.com/2007/10/09/rekam-jejak-peristiwa-musik-tahun-80-an/